Kalkulator BPJS JHT (Jaminan Hari Tua)
Alat di atas membantu kamu menghitung iuran JHT per bulan sekaligus memperkirakan saldo JHT yang terkumpul saat pencairan. Masukkan upah sebulan dan lama menabung, lalu klik Hitung Saldo JHT.
Ringkasan:
- Iuran JHT total 5,7% dari upah: 2% dipotong dari gajimu, 3,7% dibayar perusahaan.
- Saldo JHT terus menumpuk tiap bulan dan bisa dicairkan penuh saat pensiun atau berhenti kerja.
- Saldo ikut berkembang dari hasil investasi BPJS, secara historis sekitar 5-6% per tahun.
Pernahkah kamu penasaran berapa sih total saldo JHT yang akan kamu terima nanti? Angka di aplikasi JMO memang naik pelan-pelan tiap bulan, tapi susah membayangkan hasil akhirnya setelah bertahun-tahun. Nah, aku bantu perkirakan lewat alat sederhana ini biar kamu punya gambaran kasar.
Daftar isi
Cara Pakai Alat di Atas
- Isi upah sebulan yang jadi dasar iuran (gaji pokok plus tunjangan tetap).
- Isi lama menabung dalam tahun, yaitu perkiraan berapa lama kamu terus mengiur.
- Isi perkiraan hasil pengembangan per tahun kalau mau. Biarkan 0 untuk hitung setoran pokoknya saja.
- Klik Hitung Saldo JHT. Alat menampilkan iuran per bulan dan perkiraan saldo akhir.
Cara Kerja Iuran JHT
Program Jaminan Hari Tua (JHT) di BPJS Ketenagakerjaan mengumpulkan iuran bulanan sebesar 5,7% dari upah. Dana ini menumpuk di rekeningmu dan bisa dicairkan penuh saat kamu pensiun atau berhenti bekerja, mengikuti aturan yang berlaku.
Iuran/bulan = 5,7% x upah
Total pokok = iuran/bulan x (tahun x 12)
Saldo = future value setoran bulanan (jika ada hasil pengembangan)
Pembagian Iuran 5,7%
Total 5,7% itu tidak semuanya keluar dari kantongmu. Sebanyak 2% dipotong dari upah pekerja, sedangkan 3,7% sisanya dibayar oleh pemberi kerja. Jadi dari upah Rp5.000.000, kamu hanya menyetor Rp100.000, dan perusahaan menambah Rp185.000, sehingga total Rp285.000 masuk ke saldo JHT-mu tiap bulan.
Pengembangan Saldo
Saldo JHT tidak sekadar tabungan diam. BPJS Ketenagakerjaan mengelolanya dan membagikan hasil pengembangan, yang secara historis berkisar 5-6% per tahun. Karena itu, alat ini menyediakan kolom hasil pengembangan agar perkiraan saldonya lebih realistis. Kalau kamu isi 0, hasilnya hanya menjumlahkan setoran pokok tanpa bunga.
Contoh Perhitungan
Misal upahmu Rp5.000.000 dan kamu mengiur selama 10 tahun (120 bulan). Iuran per bulan adalah 5,7% x Rp5.000.000 = Rp285.000 (potongan pekerja Rp100.000 plus perusahaan Rp185.000).
Tanpa hasil pengembangan (0%), setoran pokoknya Rp285.000 x 120 = Rp34.200.000. Kalau kita asumsikan hasil pengembangan 5% per tahun, saldonya tumbuh menjadi sekitar Rp44.200.000 berkat efek bunga majemuk selama sepuluh tahun.
Internal Link Terkait
Mau lihat total iuran semua programnya sekaligus? Coba kalkulator BPJS Ketenagakerjaan. Untuk iuran jaminan kesehatan, ada kalkulator BPJS Kesehatan. Ingin tahu gaji setelah semua potongan? Pakai kalkulator gaji bersih, dan untuk merencanakan masa tua lebih jauh ada kalkulator dana pensiun.
Sering Ditanyakan
Berapa persen iuran JHT?
Iuran JHT totalnya 5,7% dari upah, terbagi menjadi 2% potongan pekerja dan 3,7% yang dibayar pemberi kerja.
Kapan saldo JHT bisa dicairkan?
JHT bisa dicairkan penuh saat kamu memasuki masa pensiun atau berhenti bekerja, mengikuti aturan yang berlaku. Ada juga opsi pencairan sebagian untuk keperluan tertentu bagi peserta yang masih aktif dengan masa kepesertaan cukup lama.
Apakah angka saldo ini pasti akurat?
Tidak, ini hanya estimasi. Saldo aslinya bergantung pada perubahan upah, konsistensi iuran, dan hasil pengembangan yang berubah tiap tahun. Untuk angka resmi, cek langsung di aplikasi JMO (Jamsostek Mobile).
Nah, itu dia cara memperkirakan iuran dan saldo JHT-mu. Semoga alat ini memudahkanmu merencanakan hari tua. Semoga bermanfaat 🙂